DI BALIK KALIMAT "MAMPUS KAU DI KOYAK-KOYAK SEPI

     Salah satu puisi charil Anwar, yang terkenal ditulis pada tahun 1943 berjudul SIA-SIA, seperti kebanyakan puisi Beliau, yang memiliki kalimat  padat serta sulit untuk di ambil kesimpulan bagi kebanyakan orang, namun itu justru yang membuat menarik dan berlama-lama membaca puisi milik  Chairil Anwar, butuh  sebuah penghayatan yang mendalam untuk memahami puisi milik beliau

Pada Puisi yang berjudul "SIA-SIA" ada sebuah kata yang bagiku itu sangat menarik yaitu "Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi"


Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
 Puisi yang menggambarkan tentang sebuah proses  perjalanan  cinta, dan pertaruhan yang amat besar, seperti yang di gambarkan di bait pertama.
   Dan akhirnya sebuah pertaruhan itu gagal, kerena hati yang tak saling mengerti satu sama lain, hati yang belum begit paham akan cinta yang telah digambarkan, seperti apa yang terkandung pada bait ke dua.
   Hingga akhirnya keduanya masih saling mencari dan saling memberi lebel dirinya sendiri sebagai "SEPI"                                                                                                                                                   

"Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi" sebuah kalimat yang di tujukan kepada pihak kedua atau lebih tepatnya sebuah analogi, atau jalan yang harus dipilih akibat telah memahami maksud hati, ketika salah satu pihak tak menyambut perasaanya.
   Atau jika dilihat dari sudut pandang yang lain, kalimat tersebut adalah sebuah cacian untuk diri sendiri, lebih sederhana kalimat itu muncul dari bahasa hati, bukan dari bahasa lisan, sehingga jika dibuat sebuah dialog antar dua tokoh menjadi seperti sebuah bahasa batin yang mencaci dirinya sendiri.

Terserah anda mau dilihat dari sudut pandang yang mana, dan kembali lagi kepada bahasa puisi yang sangat universal selalu saja ada sisi yang berbeda jika dilihat dari sudut pandang lain
     Puisi ibaratnya adalah sebuah sisi yang ada pada sebuah berlian, jika kita melihat dari sisi satu pasti ada kilau sinarnaya tak akan pernah sama pada sisi yang lainnya.


Komentar

  1. Balasan
    1. Ada yang bilang itu di Kotabaru, Yogyakarta.

      Hapus
    2. Di Sumbar itu dulu bro, sekarang sudah di bersihkan oleh pemerintah Kota Padangpanjang

      Hapus

Posting Komentar